Tentang Kami

Aneka Masakan di Jawa, mengacu secara eksklusif pada masakan orang Jawa, yang sering dibawa ke daerah dan negara lain oleh diaspora Jawa atau keturunan asing yang pernah tinggal di Jawa.

Ada beberapa suku bangsa asli yang mendiami pulau Jawa (Sunda, Madura, Betawi, dll) serta suku-suku lain keturunan asing. Dalam bahasa Indonesia, bahasa Jawa mengacu pada orang-orang yang berlatar belakang etnis Jawa.

Masakan Jawa dianggap manis, karena rasa inilah yang disukai secara tradisional di Yogyakarta. Namun, wilayah Jawa tidak hanya mencakup Yogyakarta.

Aneka Masakan di Jawa

Di Jawa Tengah bagian utara dan timur laut misalnya, rasanya cenderung asin dan pedas. Di Jawa Timur, tingkat kepedasannya meningkat. Saat ini, ketika orang Jawa menjadi lebih mobile dan mungkin pindah ke berbagai daerah, stereotip khas tentang selera daerah yang disukai ini sudah ketinggalan zaman.

Sejarah Masakan Jawa

Hidangan dan resep kuno disebutkan dalam sejumlah prasasti (prasasti) Jawa dan sejarawan modern telah berhasil menguraikan beberapa di antaranya. Prasasti Medang Mataram sekitar abad ke-8 sampai abad ke-10 menyebutkan beberapa masakan kuno, antara lain Hadangan Harang (sate daging cincang kerbau, mirip dengan sate lilit Bali sekarang), Hadangan Madura (daging kerbau dengan gula aren manis), dan Dundu Puyengan (belut dibumbui dengan kemangi lemon).

Minuman kuno termasuk Nalaka Rasa (jus tebu), Jati Wangi (minuman melati), dan Kinca (jus asam). Juga aneka Kuluban (sayuran rebus yang disajikan dengan bumbu, mirip dengan urab sekarang) dan Phalamula (ubi rebus dan umbi-umbian yang disajikan dengan gula aren cair).[1]

Dalam budaya Jawa, makanan merupakan bagian integral dari upacara adat. Misalnya upacara selamatan yang sering dilakukan sebagai simbol rasa syukur, biasanya melibatkan pesta komunal dimana peserta, tamu dan hadirin diundang untuk makan bersama. Makanan biasanya disiapkan, dimasak, dan disajikan bersama. Ini juga melambangkan gotong-royong (gotong royong), guyub (semangat kebersamaan yang harmonis), kelimpahan dan rasa syukur.

Sebagian besar masakan Jawa dikembangkan secara asli. Banyak makanan telah diserap ke dalam budaya Indonesia modern sebagai “hidangan nasional”. Beberapa di antaranya telah menginspirasi banyak hidangan daerah lainnya, seperti, lontong (Jawa Lonthong), tumpeng, krupuk, jajan pasar, dan banyak lagi.

Pengaruh asing pada makanan Jawa terlihat pada beberapa makanan, seperti bakmi dan nasi goreng (Cina), sate (Arab) dan kari (India).

Bahan-Bahan Masakan Jawa

Padi adalah tanaman pangan penting di Jawa, sejak zaman kuno. Orang Jawa dikenal memuja Dewi Sri sebagai Dewi Padi. Nasi kukus adalah makanan pokok yang umum, dan disajikan setiap kali makan. Tumpeng, nasi kuning berbentuk kerucut sangat penting dalam slametan, upacara adat Jawa.

Beras bisa diolah menjadi lontong atau ketupat, atau dimasak dengan santan sebagai nasi liwet atau diwarnai dengan kunyit sebagai nasi kuning. Sumber karbohidrat lain seperti gaplek (singkong kering) terkadang dicampurkan ke dalam nasi atau menggantikan nasi. Gaplek biasanya dikonsumsi oleh rakyat jelata yang miskin selama masa-masa sulit ketika beras langka.

Umbi-umbian seperti ubi, talas, dan ubi jalar dikonsumsi sebagai camilan di antara waktu makan. Roti dan biji-bijian selain nasi jarang ditemukan, meskipun mie dan kentang sering disajikan sebagai pelengkap nasi. Kentang sering direbus kemudian dihaluskan, dibentuk menjadi cakram, dibumbui, dilapisi telur kocok dan digoreng menjadi perkedel.

Mie gandum, bihun (bihun), dan kwetiau adalah pengaruh masakan Cina. Orang Jawa mengadopsi bahan-bahan ini dan membuatnya sendiri dengan menambahkan kecap manis dan rempah-rempah lokal untuk membuat bakmi Jawa, bakmi rebus, dan bihun goreng. Sayuran sangat menonjol dalam masakan Jawa, terutama dalam hidangan yang banyak mengandung sayuran seperti pecel, lotek, dan urap.

Masakan Jawa Tengah

Makanan di Jawa Tengah dipengaruhi oleh dua kerajaan kuno Yogyakarta dan Surakarta (juga dikenal sebagai Solo). Sebagian besar masakan Jawa Tengah dikembangkan secara asli, namun di kota-kota pesisir seperti Semarang dan Pekalongan, pengaruh Cina yang menonjol dapat dilihat, seperti lumpia (lumpia) dan bakmi Jawa.

Sedangkan di keraton Surakarta, pengaruh Eropa dapat terlihat, seperti bistik Jawa dan selat Solo. Banyak masakan khas Jawa Tengah yang memuat nama-nama daerah tempat makanan tersebut pertama kali populer, misalnya:

Semarang

  • Bandeng Juwana: Olahan bandeng bertulang empuk yang berasal dari kota nelayan Juwana, sebelah timur Semarang. Meski berasal, diproduksi dan diproses di Juwana, sebagian besar dijual di Semarang.
  • Lumpia Semarang: lumpia goreng atau kukus. Isinya bervariasi, tetapi sebagian besar terdiri dari daging dan rebung. Disajikan dengan kecap manis fermentasi (tauco) atau saus bawang putih manis. Pendamping lainnya adalah acar (acar mentimun asam manis ala Indonesia) dan cabai.
  • Nasi ayam: hidangan yang terdiri dari nasi, ayam, telur, tahu, dan disajikan dengan kuah santan manis-asin. Roti ganjel rel, roti coklat berbentuk persegi panjang dengan biji wijen, dibumbui dengan kayu manis dan gula aren. Biasanya disajikan saat Dugderan dan Ramadhan.
  • Soto Bangkong: sup ayam dalam porsi kecil; dicampur dengan nasi, perkedel, dan sate kerang, usus ayam, dan telur puyuh. Dinamakan setelah perempatan Bangkong di Semarang.
  • Wingko Babat: kue yang sebagian besar terbuat dari beras ketan dan kelapa kering, dipanggang dan dijual hangat. Meski berasal dari Babat, Jawa Timur, namun populer di Semarang. Harus diperhatikan untuk membedakan antara Babat dan babat. Babat adalah sebuah kota di Jawa Timur, bagian dari Jalan Pantai Utara dan di mana wingko Babat berasal, sedangkan babat adalah babat, bahan yang sering digunakan untuk masakan Indonesia pada umumnya.

Jepara

  • Soto Jepara: soto adalah sup umum Indonesia, biasanya diresapi dengan kunyit, dan dapat dibuat dengan ayam, sapi, atau kambing. Versi dari Jepara, sebuah kota di Jawa Tengah, terbuat dari ayam.
  • Opor panggang: opor khas Jepara. Ini adalah jenis opor ayam tetapi dengan rasa yang khas, karena ayam yang digunakan dalam hidangan ini pertama kali dipanggang di kuali tanah liat.
  • Kuluban: rujak tradisional dari Kabupaten Jepara.
    Kelap antep: masakan yang terbuat dari daging tanpa lemak, jahe, daun salam, bawang merah, bawang putih, cabai merah, asam jawa, gula pasir, dan lain-lain.
  • Horok-horok: tepung jagung kukus. Setelah matang, tepung maizena kemudian dituangkan ke dalam stoples dan diaduk dengan sisir. Jadi meski kenyal dan keras, bentuknya butiran-butiran kecil menyerupai styrofoam. Untuk menambah rasa, bisa ditambahkan sejumput garam. Hidangan ini bisa disajikan sebagai pelengkap bakso, gado-gado, pecel, atau sate kikil.
  • Hoyok-hoyok: disebut juga oyol-oyol, adalah hidangan yang terbuat dari tepung tapioka yang dicampur dengan air dan minyak, kemudian disajikan dengan tambahan parutan kelapa. Hoyok-hoyok adalah versi manis dari horok-horok.